Jumat, 07 Desember 2012

Burung-burung Langka Indonesia

Burung-Burung Langka Indonesia


Istilah burung, sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dia lah hewan yang hampir seluruh tubuhnya berbulu memipih seperti kipas, memiliki sepasang sayap, berdiri di atas dua kaki dengan masing-masing kakinya memiliki empat buah jari, serta mulutnya berbentuk paruh.
Kita patut bersyukur bahwa hingga kini kita masih bisa mengetahui kelompok hewan yang satu ini, kita masih dapat melihat keindahan tubuhnya dengan bulunya yang berwarna warni serta ukurannya yang bermacam-macam. Begitu pula dengan keindahan suaranya yang senantiasa mengiringi terbitnya mentari pagi yang seakan-akan turut menyambut hari yang penuh dengan harapan.
Jika kita perhatikan, kelompok hewan jenis burung ini, memiliki keunikan jika dibandingkan dengan jenis-jenis hewan lain yang kita kenal saat ini. Burung merupakan salah satu jenis hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan mengeraminya hingga menetas. Berbeda dengan hewan-hewan bertelur lainnya yang ketika usai bertelur, telur-telur tersebut ditinggalkan untuk menetas secara alami tanpa dierami.
Untuk mengetahui nama atau sebutan bagi jenis-jenis burung ini, tidaklah mudah. Selain daerah persebaran hidupnya (habitat) yang sangat luas di muka bumi ini, manusia yang menamai atau menyebutnya pun berbeda-beda di setiap daerah atau tempat.
Sebagai misal, seekor burung elang berjambul dengan warna bulu kecokelatan, ukurannya sedikit lebih besar dari ayam jantan dewasa. Pada masyarakat yang biasa menggunakan bahasa Inggris, burung tersebut dinamai Javan Hawk-Eagle, sedangkan masyarakat di Indonesia pada umumnya mengenal burung elang itu dengan sebutan burung Elang Jawa. Bahkan untuk kelompok masyarakat (suku bangsa) tertentu di Indonesia memberikan istilah yang berbeda, seperti orang Sunda (Jawa Barat) menyebut jenis burung itu dengan nama dadali.
 Dengan mengamati ciri-ciri dan sifat-sifat fisik serta kebiasaan hidupnya, diperkirakan bahwa di muka bumi ini, burung telah hadir sejak periode Jura, era Mesozoikum, sekitar 190 juta hingga 135 juta tahun yang lalu. Pada periode tersebut, diperkirakan hewan jenis burung telah hadir bersama dengan hewan-hewan reptil purba seperti dinosaurus herbivora Diplodocus, yaitu jenis burung purba Archeoptheryx.
Dari fosil yang ditemukan, Archeoptheryx diperkirakan sebagai kerabat terdekat dari nenek moyang burung dan memperlihatkan bagaimana burung ini ber-evolusi. Berdasarkan ciri-cirinya, tengkorak Archeoptheryx sangat mirip dengan tengkorak beberapa dinosaurus kecil lainnya, seperti Ornitholestes, tetapi ia memiliki sepasang sayap. Archeoptheryx diduga tidak dapat terbang, karena ia tidak memiliki lunas pada tulang dadanya, yaitu perpanjangan tulang yang rata dan lebar pada tulang dada burung jaman sekarang tempat menempelnya otot-otot untuk terbang.
 Jika kita mengungkap sejarah perkembangan daratan di Indonesia, sedikit banyak kita akan mengetahui bagaimana makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), khususnya burung, tumbuh dan berkembang di Indonesia. Kepulauan Indonesia yang kita kenal sekarang, pada awalnya hanyalah sebuah dasar samudera yang sangat luas, yang dalam sejarah geologi dikenal sebagai Samudera Pantalesa. Karena proses pergerakan kulit bumi akibat tenaga endogenik, maka pada jaman Paleosen (sekitar 65 juta hingga 54 juta tahun yang lalu) periode Tersier Masa Kenozoikum, barulah beberapa pulau di wilayah Indonesia sekarang, terbentuk. Sejak itulah kehidupan di kepulauan tersebut dimulai.
Apabila kita rinci secara detail, banyak sekali jenis burung endemik Indonesia yang telah diketahui, khususnya oleh para ahli zoologi. Terdapat kurang lebih sekitar 1.500 spesies burung yang ditemukan di Indonesia dengan berbagai ciri, sifat, dan keindahannya yang beranekaragam.
Berdasarkan data dan informasi dari IUCN, dari jumlah tersebut, cukup banyak spesies burung di Indonesia yang saat ini mengalami nasib yang kurang beruntung. Beberapa di antaranya terdaftar dalam kategori kritis atau terancam punah (Critically endangered: CR), bahkan ada yang tergolong sangat terancam punah (Endangered: EN).
Beberapa jenis burung di Indonesia yang saat ini berada dalam kategori sangat terancam punah (Endangered) antara lain mencakup spesies-spesies berikut:
  1. Anis Bentet Sangihe (Colluricincla sanghirensis).
  2. Celepuk Siau (Otus siaoensis); sejenis Burung Hantu.
  3. Cikalang Christmas (Fregata andrewsi).
  4. Dara Laut China (Sterna bernsteini).
  5. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi).
  6. Gagak Banggai (Corvus unicolor).
  7. Ibis Karau (Pseudibis davisoni).
  8. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi).
  9. Kacamata Sangihe (Zosterops nehrkorni).
  10. Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea).
  11. Kehicap Boano (Monarcha boanensis).
  12. Merpati Hutan Perak (Columba argentina).
  13. Perkici Buru (Charmosyna toxopei).
  14. Punai Timor (Treron psittaceus).
  15. Seriwang Sangihen (Eutrichomyias rowleyi).
  16. Sikatan Aceh (Cyornis ruckii).
  17. Trulek Jawa (Vanellus macropterus).
  18. Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis).
Kenyataan seperti ini pada umumnya diakibatkan oleh desakan jumlah populasi manusia yang semakin hari semakin meningkat. Kebutuhan manusia akan lahan untuk tempat tinggal, bercocok tanam, kebutuhan akan berbagai sumberdaya alam dan mineral, serta kebiasaan manusia untuk berburu hewan liar, baik untuk tujuan dipelihara, diperdagangkan, maupun dikonsumsi, telah berdampak buruk terhadap keberadaan burung-burung ini.
Pembukaan lahan-lahan hutan baik untuk pemenuhan kebutuhan sumberdaya alam maupun untuk bercocok tanam semakin mempersempit ruang tempat hidup bebas (habitat) burung-burung tersebut. Sementara itu, perburuan yang tidak terkendali telah mengakibatkan beberapa spesies burung ini semakin menyusut jumlahnya di alam liar.
Namun demikian, faktor tindakan manusia ini tidak 100 % menjadi penyebab berkurangnya atau kepunahan beberapa spesies burung tersebut. Faktor lain, seperti perubahan iklim secara global, jumlah populasi predator (pemangsa), serta peristiwa-peristiwa bencana alam lainnya turut berpengaruh, meskipun hal ini sangat jarang terjadi.

Sumber: Anang Saepuloh. 2010. Burung-burung Langka Indonesia. Bekasi: Nusa Agung
Posting Komentar